Category Archives: Artikel

Entrepreneurs Success Challenge 2017

 

 

Kompetisi Kewirausahaan

web-2[1]

Sebagai realisasi dari salah satu misi Ganesha Enterepreneur Club/GEC dalam memberikan dorongan terbentuknya usaha-usaha baru dan mendorong tumbuh kembangnya usaha yang sudah dijalankan, GEC bekerjasama dengan berbagai pihak yang peduli dengan pengembangan dunia kewirausahaan di Indonesia telah menyelenggarakan kompetisi kewirausahaan ‘Diplomat Success Challenge’ atau DSC yang berhadiah ½ milyar bagi pemenangnya. Untuk lebih memperluas gaungnya sehingga kompetisi ini dapat memberikan inspirasi bagi lebih banyak lagi calon wirausahawan dan wirausahawan pemula serta masyarakat umum, DSC diangkat menjadi program tontonan reality show di TV One pada setiap hari selasa jam 23.00, episode 1 dan selanjutnya akan mulai diulang tayangannya mulai tanggal 4 Januari 2011.

 

Peran dari tim GEC pada event ini dimulai sejak penyusunan konsep acara dengan membuat peraturan dan tatacara kompetisi, persyaratan peserta, template pendaftaran dan proposal, kriteria penilaian/penjurian, soal-soal penugasan dan lainnya. Setelah seluruh konsep acara tersusun dengan lengkap, press conference mengenai program kompetisi ini dilaksanakan pada tanggal 23 September 2010 di Hotel Four Season Jakarta sekaligus menandai dimulainya pendaftaran peserta kompetisi DSC. Tahapan berikutnya adalah publikasi, dan pada tahapan ini GEC terlibat sebagai pengisi acara yang diadakan sebagai bagian dari publikasi yaitu Pak Amar bertindak sebagai narasumber pada acara on-air di Radio Smart FM Semarang dan Radio Hard Rock Surabaya, juga sebagai salah seorang narasumber pada seminar entrepreneurship yang dilaksanakan di Hotel Santika Semarang dan Hotel Santika Surabaya.

Selama proses pendaftaran yang berlangsung dalam kurun waktu satu bulan, telah dilaksanakan 3 kali audisi yaitu di kota Semarang, Surabaya dan Jakarta yang selain merupakan rangkaian dari publikasi untuk menjaring peserta kompetisi juga dimanfaatkan sebagai sarana untuk melakukan penilaian awal bagi peserta yang mengikuti acara audisi ini dan seluruh anggota Tim Pewawancara pada sesi audisi ini adalah dari pihak GEC. Setelah proposal peserta kompetisi yang dikirimkan baik secara on-line maupun off-line diterima dan dievaluasi oleh GEC sebagai bagian dari Panitia Seleksi dengan tambahan data hasil dari audisi, GEC memberikan masukan pada rapat Panitia Seleksi dengan Dewan Juri mengenai proposal-proposal yang pantas untuk dipilih sebagai 20 finalis.

web-4[1]   web-1[1]

Setelah diputuskan ke 20 finalis secara bersama-sama oleh Panitia Seleksi dan Dewan Juri, berikutnya ke 20 finalis dari berbagai daerah ini diundang ke Jakarta dengan segala fasilitas ditanggung oleh panitia penyelenggara. Tahapan berikutnya yang harus dilalui ke-20 peserta finalis adalah mempresentasikan ide bisnisnya dihadapan Tim Penyeleksi dari GEC. Sebelum para peserta mempresentasikan ide bisnisnya, diberikan pembekalan mengenai entrepreneurship dan teknik presentasi oleh Tim Pembekalan dari GEC.

Berdasarkan penilaian dan masukan dari Tim Penyeleksi, pada rapat dengan Dewan Juri dipilih 9 finalis yang berhak mengikuti tahapan berikutnya yaitu penugasan di tiga kota, Surabaya, Semarang dan Jakarta atau ‘tour of duty’. Pada tahapan ‘tour of duty’ ini para peserta mendapatkan tantangan yang berlainan di setiap kota menyesuaikan dengan karakteristik kota masing-masing ditinjau dari sisi bisnis. Pada pelaksanaan tugas di Semarang dilakukan eliminasi 3 finalis oleh Dewan Juri dan di Surabaya terelimansi 2 orang peserta, sedangkan di Jakarta Dewan Juri tidak melakukan eliminasi finalis sehingga dari pelaksanaan ‘tour of duty’ tinggal tersisa 4 orang finalis. Penilaian pada ‘tour of duty’ adalah pada aspek karakter yang dimiliki oleh masing-masing peserta dengan acuan karakter utama yang seharusnya dimiliki oleh seorang entrepreneur seperti ketangguhan, keberanian dalam mengambil resiko, kepekaan dalam membaca peluang, kreativitas, dan lainnya.

Sebelum memasuki tahapan grand final, dilaksanakan penilaian oleh Dewan Juri dengan melakukan interview terhadap para finalis, dan presentasi ulang mengenai ide bisnisnya masing-masing di hadapan Dewan Juri untuk mengeliminasi 1 orang finalis dan medapatkan 3 orang grand finalis. Selanjutnya adalah acara grand final dengan menghadirkan 3 orang peserta terbaik dari sisi ide bisnisnya maupun dari sisi karakternya yang diselenggarakan di XXI Jakarta dan dihadiri oleh para undangan dari berbagai kalangan. Acara utama grand final adalah debat antar para grand finalis dalam mempertahankan ide bisnisnya sebagai ide bisnis terbaik yang paling pantas mendapatkan hadiah modal usaha sebesar ½ milyar. Acara juga diisi tanya jawab grand finalis dengan Dewan Juri dan Tim Penyeleksi. Pemenang kompetisi harus ditentukan pada acara grand final ini, dan melalui rapat antara Dewan Juri dengan Tim Penyeleksi dari GEC akhirnya ditentukanlah pemenang kompetisi DSC ini yang berhak mendapatkan hadiah modal usaha ½ milyar.

web-5[1]    web-3[1]

Paska pelaksanaan program kompetisi, GEC mendapatkan mandat dari sponsor program yaitu Wismilak-Diplomat untuk membentuk Tim Pendampingan usaha yang bertugas dalam mendampingi pemenang dalam bentuk mentoring dan monitoring. Pembentukan tim ini bertujuan agar penggunaan dana hadiah yang dimaksudkan sebagai modal usaha ini dapat berjalan sesuai dengan harapan bersama dan pemenang kompetisi DSC ini dapat menjadi model entrepreneur pemula yang tangguh dan sukses dalam mengembangkan usahanya – ‘from zero to hero’.

Rintihan Pilu TKI Bermasalah

Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bermasalah saat ini menjadi pemberitaan rutin yang cukup hangat di berbagai media massa. Hal ini telah mengundang berbagai kalangan mulai Presiden, DPR, LSM, para pakar, sampai kalangan masyarakat biasa untuk mengeluarkan berbagai macam reaksi dari mulai pidato, komentar sinis, demonstrasi, ide ‘nyeleneh’, dan sebagainya. Berbagai macam upaya terkait hal ini telah dilakukan seperti memberikan pembekalan berupa berbagai macam pelatihan ketrampilan bagi para calon tenaga kerja yang akan diberangkatkan ke luar negeri, pendampingan hukum bagi tenaga kerja yang terlibat masalah di luar negeri dan upaya-upaya lainnya. Berbagai upaya ini tentu perlu mendapatkan apresiasi namun pada kenyataannya jumlah tenaga kerja yang bermasalah ini tetaplah tinggi seiring dengan tetap tingginya jumlah tenaga kerja rendah ketrampilan yang berangkat secara ilegal ke luar negeri dengan berbagai cara dan upaya agar tetap dapat diberangkatkan.

Maraknya berbagai pemberitaan mengenai tenaga kerja Indonesia bermasalah ini tentunya sampai juga informasinya kepada para calon tenaga kerja Indonesia. Mereka semakin mengetahui resiko yang dihadapinya, namun hal ini tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap berangkat karena himpitan beban ekonomi yang mereka rasakan di daerahnya masing-masing jauh lebih berat dibandingkan dengan berbagai resiko yang mungkin akan mereka hadapi yang masih berupa bayangan dan berita saja bagi mereka. Alasan himpitan beban ekonomi yang semakin berat ini menutupi ketakutan dan kekhawatiran mereka terhadap berbagai kemungkinan resiko yang akan mereka hadapi nanti. Ironisnya cukup banyak juga mereka datang dan berasal dari kantong-kantong TKI yang sebenarnya merupakan daerah yang relatif subur sehingga mempunyai potensi ekonomi bila dikelola dengan baik dan terarah seperti dari beberapa kecamatan di Kabupaten Bandung, Kabupaten Cianjur dan lain-lainnya. Mereka seakan-akan menjadi objek dan komoditas bisnis bagi berbagai kalangan yang menangguk keuntungan dari rangkaian panjang proses pemberangkatannya yang seringkali juga bersifat fiktip. Potensi ekonomi pedesaan di bidang agribisnis yang belum terkelola dan tergarap dengan baik inilah yang merupakan akar atau inti masalah sebenarnya dalam penanganan masalah ketenagakerjaan yang akibatnya menimbulkan berbagai masalah lanjutan seperti urbanisasi, angka kriminalitas yang semakin tinggi, tenaga kerja Indonesia di luar negeri yang rendah keahlian dan lain sebagainya. Kondisi di pedesaan seperti ini tentunya bagi sebagian besar pihak adalah masalah dan patut dihindari, namun tidaklah demikian bagi para entrepreneur terlebih lagi bagi yang menggeluti social entrepreneurship, ini merupakan peluang atau oppurtunity untuk berkarya dalam menggerakkan mesin perekonomian pedesaan sehingga layak untuk digeluti.

 

Sesuai dengan kondisi dan struktur perekonomian Indonesia,penciptaan kesempatan kerja tidak mungkin hanya mengandalkan dari pengembangan usaha besar saja. Penciptaan kesempatan kerja dapat juga dilakukan melaui pengembangan usaha mandiri dan usaha keluarga, serta usaha-usaha kecil dan menengah. Untuk itu sebagian besar angkatan kerja perlu dipersiapkan dengan kemampuan kewirausahaan supaya dapat bekerja mandiri dan atau membangun usaha keluarga dan usaha kecil serta menengah. Pembangunan dan pengembangan sektor usaha kecil dan menengah ini akan mampu mendorong tersedianya lapangan kerja yang berdampak kepada menurunnya pengangguran. Selain itu, usaha kecil dan menengah pun dapat menjadi motor pertumbuhan baru, dengan laju pertumbuhan tinggi meskipun produktivitas per pekerjanya masih terbilang rendah. Selanjutnya, kekayaan alam dan kesuburan tanah Indonesia menjadikan sektor agribisnis seharusnya menjadi salah satu sektor andalan untuk ditekuni dan dikembangkan dari hulu sampai hilir oleh umumnya masyarakat Indonesia.

 

Namun pada kenyataannya anggota masyarakat yang mampu menciptakan lapangan kerja masih sangat terbatas, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal diantaranya kurangnya pemahaman dan wawasan mengenai wirausaha sehingga mengakibatkan kurangnya rasa percaya diri untuk menggeluti dunia wirausaha selain kurangnya jaringan usaha yang dimiliki. Kemudian paradigma di masyarakat pada umumnya yang memandang kedudukan sebagai karyawan atau pegawai di suatu instansi atau perusahaan lebih terhormat dibanding sebagai seorang yang berwirausaha. Demikian juga masih diperlukannya usaha untuk membangkitkan dan menggalang rasa tanggung jawab dan kepedulian dari anggota masyarakat terutama yang berasal dari kalangan pesantren dan masjid dengan jumlah umat yang cukup besar, dengan menjadi motor penggerak dibidang wirausaha untuk berperan aktif dalam mengatasi keterpurukan bangsa terutama dalam sektor ekonomi yang ditandai dengan makin membengkaknya jumlah penduduk usia produktif yang menganggur dan beralih tangannya kepemilikan perusahaan-perusahaan besar ke tangan pihak asing.

Demikian juga sektor agribisnis saat ini menjadi bidang yang dihindari, bahkan oleh masyarakat pedesaan sendiri. Sektor agribisnis atau pertanian di hulunya masih identik dengan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Padahal bila dicermati, sektor agribisnis dibagian hilir sebenarnya nyata-nyata dapat memberikan kesejahteraan bagi para pelakunya. Dengan demikian sebenarnya yang terjadi adalah ketimpangan antara hulu dan hilir dibidang agribisnis ini, pelaku dibagian hulu adalah para petani dengan jumlah yang besar dan saat ini tidak bisa beranjak dari jeratan kemiskinan sedangkan dibagian hilir adalah segelintir pedagang dari kota yang sudah menikmati potensi ekonomi dari sektor agribisnis ini. Selanjutnya penyebab lainnya dari keterpurukan sektor pertanian di bagian hulu adalah pengelolaan berbagai usaha pertanian yang masih dilakukan secara parsial, masyarakat petani terkelompok-kelompok menjadi petani padi, petani sayuran, peternak ayam, peternak domba, peternak sapi, dan lain sebagainya karena mengadopsi salah satu prinsip green revolution yaitu sistem monoculture. Untuk mencapai pertanian yang berketahanan dan mampu memberikan pendapatan yang memadai, sistem pertanian yang harus diaplikasikan adalah sistem pertanian terpadu. Efek samping yang diharapkan dari tertatanya seluruh proses pengelolaan agribisnis ini adalah terciptanya peluang lain diantaranya dibidang pariwisata.

Adapun untuk membongkar ketimpangan antara hulu dan hilir ini perlu dilakukan pemberdayaan bagi masyarakat desa sendiri sehingga mereka mampu mengelola potensi di sektor agribisnis ini mulai dari hulu sampai hilir secara lebih adil. Pemberdayaan bagi masyarakat pedesaan ini dapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan dan diantaranya yang berbasiskan pesantren dan masjid sehingga semua kalangan masyarakat pedesaan dapat terlibat dari keseluruhan proses agribisnis tersebut sebagai berikut :

 

Dalam upaya membangkitkan semangat kewirausahaan, pelatihan yang hanya bersifat memberikan keahlian (hard skill) seperti yang biasanya diberikan oleh instansi-instansi terkait tentunya tidaklah memadai dan harus dilengkapi dengan pelatihan yang bersifat memberikan pembekalan karakter-karakter kewirausahaan (soft skill).

Semoga slogan Pahlawan Devisa yang semula ditujukan bagi para TKI yang umumnya berasal dari masyarakat pedesaan dapat menjadi slogan milik masyarakat pedesaan yang menekuni profesi petani dan industri pertaniannya yang mampu going global, tidak menggadaikan harkat martabat bangsa tetapi justru mengangkat setinggi-tingginya – B E R D I K A R I !!!

 

Salam,

Utju Suiatna

Ganesha Organic SRI

http://www.infoorganik.com

Kalau Akan Jadi Entrepreneur Jangan Pernah Melamar Kerja ?

Up

Pertanyaan umum yang terlontar dari para alumni muda yang baru lulus kuliah dan punya minat untuk menjadi entrepreneur adalah: langsung buka usaha atau kerja dulu? Kalau langsung buka usaha darimana modalnya? Bidang usaha yang digarap apa? Apakah bidang usaha harus sesuai dengan latar belakang keilmuan sewaktu kuliah? Kalau kerja dulu, kapan harus memutuskan berhenti? Melamar kerja di perusahaan yang bidang usahanya apa? Dan lain-lain pertanyaan yang mungkin muncul yang membuat semakin bingung untuk melangkah……..

Untuk orang-orang yang sejak kuliahnya sudah terbiasa berbisnis dan saat selesai kuliah, bisnisnya mulai menanjak dan mereka sudah menikmati rangkaian proses berbisnis yang dijalaninya tentunya pertanyaan tersebut kemungkinan besar tidak akan muncul. Tapi pasti akan lain halnya dengan orang-orang yang belum pernah melakukan wirausaha, atau sudah melakukannya tapi usahanya terlihat kurang menjanjikan

Ada seorang entrepreneur yang sudah terbilang berhasil dalam usahanya dengan tegas mengatakan ‘Jangan pernah sekali-sekali melamar kerja kalau ingin jadi entrepereneur’. Lho kenapa? Penjelasannya adalah karena kalau sudah pernah bekerja akan sulit berhenti dari pekerjaannya sehingga akhirnya tidak akan pernah bisa menjadi entrepreneur kecuali setelah pensiun. Kok bisa begitu? Mungkin pertanyaan ini yang akan muncul, dan penjelasaanya adalah kalau sudah bekerja maka sistem yang akan menghambat kita untuk keluar sebagai karyawan. Dimulai dengan kemampuan untuk memiliki kartu kredit, lalu fasilitas cicilan mobil kemudian rumah, keperluan untuk sekolah anak dan seterusnya yang akan menimbulkan kewajiban rutin berupa cicilan yang harus terjamin pengembaliannya ataupun fasilitas-fasilitas promosi dari tempat kerja yang menggiurkan bila mencapai prestasi kerja yang baik sehingga sayang kalau sampai dilewatkan.

Jadi kesimpulannya ? Ya memang benar jangan pernah melamar kerja kalau kita tidak pernah punya tujuan yang pasti untuk apa kita melamar pekerjaan tersebut dikaitkan dengan rencana untuk berwirausaha atau hanya punya tujuan mengumpulkan modal saja untuk nanti berwirausaha. Karena kalau kita bekerja dengan tujuan ‘uang’ untuk nanti dipakai modal bisa jadi akan membuat kita sangat sensitif dengan ‘uang’ yang didapatkan dari perusahaan yang dapat mengakibatkan ketidakpuasan yang berujung sering berpindah-pindah pekerjaan sehingga niat untuk mengumpulkan modalpun bisa jadi tidak pernah tercapai. Lalu apakah kalau memang bisa mengumpulkan modal dapat dengan mudah melakukan wirausaha? Mungkin benar akan mudah untuk memulai tetapi bisa jadi tetap akan sangat sulit untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.

Lain halnya kalau kita akan berwirausaha dan sudah memiliki interest terhadap suatu bidang dan kemudian melamar pekerjaan dengan TUJUAN : mendapatkan informasi (ilmu) sebanyak-banyaknya mengenai bidang usaha tersebut secara riil dimana kita sendiri terlibat didalam prosesnya dan merintis jaringan usaha untuk bidang tersebut termasuk dengan key person ditempat kita bekerja maka tentunya melamar dan bekerja di perusahaan orang lain akan sangat besar manfaat dan gunanya. Dengan hanya berpatokan kepada tujuan tersebut maka ‘uang’ dan ‘jabatan’ tidak menjadi prioritas tertinggi lagi. Setelah informasi dan jaringan yang diperlukan dinilai cukup memadai maka hal ini akan menjadi modal yang sangat besar untuk mulai melangkah dalam memulai wirausaha, salah satu contohnya bisa dimulai dengan menjadi mitra usaha dengan tempat kita bekerja tersebut semisal mensuplai produk barang dan jasa yang diperlukan perusahaan tersebut dan mungkin masih diimpor atau menggunakan jasa dari luar negeri. Modal untuk memulai? Tentu banyak pilihan, dengan tabungan sendiri, bantuan keluarga atau bantuan teman atau lainnya misalnya pinjaman ke bank dengan jaminan. Mengenai modal ventura ? Ternyata modal ventura ini sangat banyak dan masih belum terserap semua oleh dunia usaha. Artinya peluang untuk turut memanfaatkan dana ventura ini masih sangat besar. Namun pemanfaatan dana ini yang tidak tepat walaupun bunganya kecil dikemudian hari justru akan menjadi beban bagi pemilik usaha. Yang jauh lebih penting adalah pembinaan agar produk yang dihasilkan terserap pasar, setelah respon pasar sangat baik baru diarahkan ke penambahan modal untuk pengembangan dan peningkatan penjualan.

Jadi…….? Silahkan nilai dan posisikan anda dimana, apakah ingin langsung terjun berjibaku sendiri atau bergerombol dengan teman yang sama-sama belum pernah terjun ke dunia ini atau mencari ilmu dan ‘cantolan’ dengan bekerja dulu. Atau adakah cara lain yang mungkin lebih cepat dan mungkin lebih aman serta nyaman ? Masih ada alternatif yang bisa kita pilih diantaranya mengikuti perkumpulan para entrepreneur dan melebur dengan mereka secara langsung dan mengikuti kegiatan usaha mereka, atau bisa juga dengan mengikuti pelatihan entrepreneurship. Untuk mewadahi dua alternatif ini Ganesha Entrepreneur Club (GEC) secara rutin mengadakan pertemuan dan bincang-bincang bisnis dan melalui salah satu divisinya yaitu Ganesha Entrepreneur Institute (GEI) dan unit usaha lainnya seperti Ganesha Organic SRI (GO SRI) serta lainnya telah mengadakan berbagai pelatihan bagi para calon entrepreneur baik yang baru lulus kuliah, masih kuliah ataupun akan/sudah pensiun. Pelatihan yang diselenggarakan mencakup pelatihan yang bersifat soft skill maupun hard skill. Dengan jaringan alumni yang sudah terjalin cukup baik, diharapkan permasalahan baik modal awal dan pengembangan maupun pemasaran dapat diatasi. Semboyan yang selalu diusung adalah Silih Asah – Silih Asuh – Silih Asih yang diambil dari salah satu falsafah tanah pajajaran.

 

Utju Suiatna

Ganesha Entrepreneur Club

Belajar Kepada Abdurrahman bin ‘Auf

Ada beberapa poin yang bisa kita pelajari dari kehidupan Abdurrahman bin ‘Auf. Beberapa pelajaran yang bisa mengubah paradigma keliru atau mitos tentang keberhasilan dalam berusaha dan harta :

  1. Bukan harta yang menentukan kita masuk surga atau neraka. Ada, atau bahkan mungkin banyak orang yang beranggapan bahwa untuk meraih akhirat mereka meninggalkan dunia. Sementara Abdurrahman bin ‘Auf adalah orang yang sangat kaya raya tetapi mendapat jaminan masuk surga. Harta akan menyebabkan kita masuk neraka jika mendapatkannya dan membelanjakannya dengan cara yang tidak diridlai oleh Allah SWT.
  2. Modal uang bukan satu-satunya modal dalam berusaha. Saat Rasulullah SAW mempersaudarakannya dengan Sa’ad bin Rabi’, seroang penduduk Madinah yang kaya, menawarkan setengah harta dan seorang istri. Tetapi Abdurrahman bin ‘Auf menolaknya dengan baik dan memintanya untuk ditunjukan letak pasar. Beliau pergi ke pasar dan berdagang di sana sampai memperoleh keuntungan. Beliau tidak meminta uang ke shahabatnya.
  3. Menjual adalah keterampilan yang sangat penting. Kemampuan menjual adalah salah satu faktor keberhasilan beliau dalam berniaga. Sehabis hijrah, tanpa membawa harta dari Mekah, beliau hanya minta ditunjukan letak pasar, kemudian beliau berhasil membawa keuntungan. Menurut riwayat, barang apapun yang beliau perjual belikan akan membawa keuntungan yang besar. Sehingga bukan barangnya (produk/jasa) yang menentukan beliau sukses, tetapi kemampuan menjualnya.
  4. Manajemen waktu yang baik. Seperti disebutkan di atas, bahwa beliau meskipun seorang saudagar kaya, tetapi hidupnya tidak untuk dagang saja. Beliau rajin datang ke masjid beliau juga ikut berperang. Beliau adalah salah satu tentara saat perang Badar, perang Uhud, dan beberapa peperangan lainnya.
  5. Bersih. Beliau selalu berniaga dengan modal dan barang yang halal dan menjauhkan diri dari perbuatan haram dan syubhat.
  6. Belanja di jalan Allah tidak akan menghabiskan harta. Teladan dari beliau adalah salah satu bukti bahwa dengan membelanjakan harta di jalan Allah tidak akan membuat kita miskin.
  7. Tidak bermewah diri. Dalam cerita yang lain, jika seseorang yang belum mengenal beliau saat bersama dengan para pelayannya, maka orang tersebut tidak akan membedakan mana majikan, mana pelayan.

Dikutip dari http://www.mobiz.net

Berwirausaha Dalam Islam

success

“Pedagang yang beramanat dan dapat dipercaya, akan bersama orang-orang yang mati syahid nanti di hari kiamat.” (Riwayat Ibnu Majah dan al-Hakim)

“Pedagang yang dapat dipercaya dan beramanat, akan bersama para Nabi, orang-orang yang dapat dipercaya dan orang-orang yang mati syahid.” (Riwayat al-Hakim dan Tarmizi dengan sanad hasan)

Kita tidak heran kalau Rasulullah menyejajarkan kedudukan pedagang yang dapat dipercaya dengan kedudukan seorang mujahid dan orang-orang yang mati syahid di jalan Allah, sebab sebagaimana kita ketahui dalam percaturan hidup, bahwa apa yang disebut jihad bukan hanya terbatas dalam medan perang semata-mata tetapi meliputi lapangan ekonomi juga.

Seorang pedagang dijanjikan suatu kedudukan yang begitu tinggi di sisi Allah serta pahala yang besar nanti di akhirat karena perdagangan itu pada umumnya diliputi oleh perasaan tamak dan mencari keuntungan yang besar dengan jalan apapun. Harta dapat melahirkan harta dan suatu keuntungan membangkitkan untuk mencapai keuntungan yang lebih banyak lagi. Justru itu barangsiapa berdiri di atas dasar-dasar yang benar dan amanat, maka berarti dia sebagai seorang pejuang yang mencapai kemenangan dalam pertempuran melawan hawa nafsu. Justru itu pula dia akan memperoleh kedudukan sebagai mujahidin.

Dalam sejarah perjalanan para sahabat Nabi, kita dapati juga, bahwa di antara mereka itu ada yang bekerja sebagai pedagang, pertukangan, petani dan sebagainya. Rasulullah berada di tengah-tengah mereka di mana ayat-ayat al-Quran itu selalu turun kepadanya, beliau berbicara kepada mereka dengan bahasa langit, dan Malaikat Jibril senantiasa datang kepadanya dengan membawa wahyu dari Allah. Semua sahabatnya mencintai beliau dengan tulus ikhlas, tidak seorang pun yang ingin meninggalkan beliau walaupun hanya sekejap mata.

Oleh karena itu, maka kita jumpai seluruh sahabatnya masing-masing bekerja seperti apa yang dikerjakan Nabi, ada yang mengurus korma dan tanaman-tanaman, ada yang berusaha mencari pencaharian dan perusahaan. Dan yang tidak tahu tentang ajaran Nabi, berusaha sekuat tenaga untuk menanyakan kepada rekan-rekannya yang lain. Untuk itu mereka diperintahkan siapa yang mengetahui supaya menyampaikan kepada yang tidak tahu.

Sahabat Anshar pada umumnya ahli pertanian, sedang sahabat Muhajirin pada umumnya ahli dalam perdagangan dan menempa dalam pasar. Misalnya Abdurrahman bin ‘Auf seorang muhajirin pernah disodori oleh rekannya Saad bin ar-Rabi’ salah seorang Anshar separuh kekayaan dan rumahnya serta disuruhnya memilih dari salah seorang isterinya supaya dapat melindungi kehormatan kawannya itu. Abdurrahman kemudian berkata kepada Saad: Semoga Allah memberi barakah kepadamu terhadap hartamu dan isterimu, saya tidak perlu kepadanya. Selanjutnya kata Abdurrahman: Apakah di sini ada pasar yang bisa dipakai berdagang? Jawab Saad: Ya ada, yaitu pasar Bani Qainuqa’. Maka besok paginya Abdurrahman pergi ke pasar membawa keju dan samin. Dia jual-beli di sana. Begitulah seterusnya, akhirnya dia menjadi seorang pedagang muslim yang kayaraya, sampai dia meninggal, kekayaannya masih bertumpuk-tumpuk.

Abubakar juga bekerja sebagai pedagang, sehingga pada waktu akan dilantik sebagai khalifah beliau sedang bersiap-siap akan ke pasar. Begitu juga Umar, Usman dan lain-lain

(Dikutip dari Halal dan Haram Dalam Islam, Yusuf Qardhawi)