Kalau Akan Jadi Entrepreneur Jangan Pernah Melamar Kerja ?

Up

Pertanyaan umum yang terlontar dari para alumni muda yang baru lulus kuliah dan punya minat untuk menjadi entrepreneur adalah: langsung buka usaha atau kerja dulu? Kalau langsung buka usaha darimana modalnya? Bidang usaha yang digarap apa? Apakah bidang usaha harus sesuai dengan latar belakang keilmuan sewaktu kuliah? Kalau kerja dulu, kapan harus memutuskan berhenti? Melamar kerja di perusahaan yang bidang usahanya apa? Dan lain-lain pertanyaan yang mungkin muncul yang membuat semakin bingung untuk melangkah……..

Untuk orang-orang yang sejak kuliahnya sudah terbiasa berbisnis dan saat selesai kuliah, bisnisnya mulai menanjak dan mereka sudah menikmati rangkaian proses berbisnis yang dijalaninya tentunya pertanyaan tersebut kemungkinan besar tidak akan muncul. Tapi pasti akan lain halnya dengan orang-orang yang belum pernah melakukan wirausaha, atau sudah melakukannya tapi usahanya terlihat kurang menjanjikan

Ada seorang entrepreneur yang sudah terbilang berhasil dalam usahanya dengan tegas mengatakan ‘Jangan pernah sekali-sekali melamar kerja kalau ingin jadi entrepereneur’. Lho kenapa? Penjelasannya adalah karena kalau sudah pernah bekerja akan sulit berhenti dari pekerjaannya sehingga akhirnya tidak akan pernah bisa menjadi entrepreneur kecuali setelah pensiun. Kok bisa begitu? Mungkin pertanyaan ini yang akan muncul, dan penjelasaanya adalah kalau sudah bekerja maka sistem yang akan menghambat kita untuk keluar sebagai karyawan. Dimulai dengan kemampuan untuk memiliki kartu kredit, lalu fasilitas cicilan mobil kemudian rumah, keperluan untuk sekolah anak dan seterusnya yang akan menimbulkan kewajiban rutin berupa cicilan yang harus terjamin pengembaliannya ataupun fasilitas-fasilitas promosi dari tempat kerja yang menggiurkan bila mencapai prestasi kerja yang baik sehingga sayang kalau sampai dilewatkan.

Jadi kesimpulannya ? Ya memang benar jangan pernah melamar kerja kalau kita tidak pernah punya tujuan yang pasti untuk apa kita melamar pekerjaan tersebut dikaitkan dengan rencana untuk berwirausaha atau hanya punya tujuan mengumpulkan modal saja untuk nanti berwirausaha. Karena kalau kita bekerja dengan tujuan ‘uang’ untuk nanti dipakai modal bisa jadi akan membuat kita sangat sensitif dengan ‘uang’ yang didapatkan dari perusahaan yang dapat mengakibatkan ketidakpuasan yang berujung sering berpindah-pindah pekerjaan sehingga niat untuk mengumpulkan modalpun bisa jadi tidak pernah tercapai. Lalu apakah kalau memang bisa mengumpulkan modal dapat dengan mudah melakukan wirausaha? Mungkin benar akan mudah untuk memulai tetapi bisa jadi tetap akan sangat sulit untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.

Lain halnya kalau kita akan berwirausaha dan sudah memiliki interest terhadap suatu bidang dan kemudian melamar pekerjaan dengan TUJUAN : mendapatkan informasi (ilmu) sebanyak-banyaknya mengenai bidang usaha tersebut secara riil dimana kita sendiri terlibat didalam prosesnya dan merintis jaringan usaha untuk bidang tersebut termasuk dengan key person ditempat kita bekerja maka tentunya melamar dan bekerja di perusahaan orang lain akan sangat besar manfaat dan gunanya. Dengan hanya berpatokan kepada tujuan tersebut maka ‘uang’ dan ‘jabatan’ tidak menjadi prioritas tertinggi lagi. Setelah informasi dan jaringan yang diperlukan dinilai cukup memadai maka hal ini akan menjadi modal yang sangat besar untuk mulai melangkah dalam memulai wirausaha, salah satu contohnya bisa dimulai dengan menjadi mitra usaha dengan tempat kita bekerja tersebut semisal mensuplai produk barang dan jasa yang diperlukan perusahaan tersebut dan mungkin masih diimpor atau menggunakan jasa dari luar negeri. Modal untuk memulai? Tentu banyak pilihan, dengan tabungan sendiri, bantuan keluarga atau bantuan teman atau lainnya misalnya pinjaman ke bank dengan jaminan. Mengenai modal ventura ? Ternyata modal ventura ini sangat banyak dan masih belum terserap semua oleh dunia usaha. Artinya peluang untuk turut memanfaatkan dana ventura ini masih sangat besar. Namun pemanfaatan dana ini yang tidak tepat walaupun bunganya kecil dikemudian hari justru akan menjadi beban bagi pemilik usaha. Yang jauh lebih penting adalah pembinaan agar produk yang dihasilkan terserap pasar, setelah respon pasar sangat baik baru diarahkan ke penambahan modal untuk pengembangan dan peningkatan penjualan.

Jadi…….? Silahkan nilai dan posisikan anda dimana, apakah ingin langsung terjun berjibaku sendiri atau bergerombol dengan teman yang sama-sama belum pernah terjun ke dunia ini atau mencari ilmu dan ‘cantolan’ dengan bekerja dulu. Atau adakah cara lain yang mungkin lebih cepat dan mungkin lebih aman serta nyaman ? Masih ada alternatif yang bisa kita pilih diantaranya mengikuti perkumpulan para entrepreneur dan melebur dengan mereka secara langsung dan mengikuti kegiatan usaha mereka, atau bisa juga dengan mengikuti pelatihan entrepreneurship. Untuk mewadahi dua alternatif ini Ganesha Entrepreneur Club (GEC) secara rutin mengadakan pertemuan dan bincang-bincang bisnis dan melalui salah satu divisinya yaitu Ganesha Entrepreneur Institute (GEI) dan unit usaha lainnya seperti Ganesha Organic SRI (GO SRI) serta lainnya telah mengadakan berbagai pelatihan bagi para calon entrepreneur baik yang baru lulus kuliah, masih kuliah ataupun akan/sudah pensiun. Pelatihan yang diselenggarakan mencakup pelatihan yang bersifat soft skill maupun hard skill. Dengan jaringan alumni yang sudah terjalin cukup baik, diharapkan permasalahan baik modal awal dan pengembangan maupun pemasaran dapat diatasi. Semboyan yang selalu diusung adalah Silih Asah – Silih Asuh – Silih Asih yang diambil dari salah satu falsafah tanah pajajaran.

 

Utju Suiatna

Ganesha Entrepreneur Club

Leave a Reply